Halaman Kosong
Darma menyandarkan punggungnya ke kursi.
Di luar, suara malam terdengar samar. Seekor cicak berbunyi dari balik lemari buku. Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh sembilan menit.
“Mpu,” katanya pelan.
“Hm?”
“Apa Panjenengan pernah memimpin organisasi?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Pernah.”
“Organisasi apa?”
“Lupa.”
Darma tertawa.
“Masa lupa?”
“Lumayan banyak tahun yang sudah lewat.”
“Lalu apa yang paling sulit menjadi pemimpin?”
Mpu Sabak tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil buku catatan Darma yang tergeletak di meja.
Dibukanya beberapa halaman.
Sebagian berisi daftar pekerjaan.
Sebagian berisi agenda.
Sebagian lagi hanya nama-nama orang.
Mpu Sabak menunjuk sebuah halaman.
“Apa ini?”
“Daftar yang harus kuselesaikan minggu ini.”
“Lalu yang ini?”
“Agenda bulan depan.”
“Yang ini?”
“Rencana reuni.”
“Yang ini?”
“Program beasiswa alumni.”
Mpu Sabak membalik halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman setelahnya.
Kosong.
Halaman setelahnya lagi.
Kosong.
Mpu Sabak menutup buku itu perlahan.
“Darma.”
“Ya?”
“Di antara semua halaman yang kauisi untuk orang lain, berapa halaman yang kauisi untuk dirimu sendiri?”
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Darma tidak menjawab.
Karena ia tahu jawabannya.
Sangat sedikit.
BERSAMBUNG…