Malam itu Darma mengambil kalender lama dari laci meja.
Banyak tanggal yang dulu ia lingkari.
Rapat.
Reuni.
Acara keluarga.
Janji dokter.
Undangan.
Pengumpulan dana.
Pertemuan alumni.
Hidupnya seperti deretan kotak-kotak kecil yang selalu minta diisi.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Ia memandangi kalender itu.
“Ramai sekali hidupmu.”
Darma tersenyum.
“Kadang aku sendiri heran, Mpu. Mengapa tanggal kosong justru membuatku gelisah.”
Mpu Sabak duduk.
“Karena kau terlalu lama mengira hari kosong adalah hari yang belum berguna.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak menunjuk salah satu tanggal yang tidak diberi tanda apa pun.
“Lihat ini.”
“Tidak ada acara.”
“Justru itu.”
“Apa maksudnya?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Tidak semua hari harus menghasilkan sesuatu.”
“Ada hari yang hanya perlu dijalani agar jiwa bisa bernapas.”
Darma memandangi kalender itu.
Untuk pertama kalinya, tanggal kosong tidak tampak seperti kekurangan.
Ia tampak seperti hadiah.
Darma tidak menulis panjang. Ia hanya mencatat inti malam itu:
“Mungkin hidup tidak perlu selalu penuh agar terasa berarti. Kadang yang kosong justru memberi ruang bagi Tuhan untuk lewat.”