preloader

Hari Minggu pagi.

Seperti biasa, Darma dan istrinya berangkat ke gereja.

Mereka datang tidak terlalu awal.

Tidak terlalu terlambat.

Kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Di dalam gereja, bangku-bangku mulai terisi.

Anak-anak kecil berlarian sebelum misa dimulai.

Beberapa orang menyapa Darma.

Ada yang menanyakan kabar.

Ada yang mengingatkan rapat.

Ada yang meminta waktu bertemu.

Darma tersenyum dan mengangguk kepada semuanya.

Tetapi pagi itu, entah mengapa, ia merasa lelah bahkan sebelum misa dimulai.

Ia memilih duduk di bangku ketiga dari belakang.

Biasanya ia duduk lebih depan.

Namun kali ini ia ingin sedikit bersembunyi.

Sedikit saja.

Dari tugas.

Dari percakapan.

Dari harapan orang lain.

Saat lagu pembukaan dinyanyikan, Darma memandang sekeliling.

Ada pasangan muda.

Ada lansia yang berjalan perlahan dengan tongkat.

Ada remaja yang tampak mengantuk.

Ada seorang lelaki yang duduk sendirian.

Dan tiba-tiba Darma sadar:

Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang benar-benar ia ketahui bebannya.

Malam harinya, setelah pukul delapan.

Tok.

Tok.

Tok.

Mpu Sabak datang.

Darma langsung bertanya:

“Mpu, mengapa orang datang ke gereja?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Jawaban yang sopan atau yang jujur?”

“Yang jujur.”

Mpu Sabak mengangguk.

“Karena manusia tahu ia tidak sanggup menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri.”

Ruangan menjadi hening.

Darma menunduk.

“Maksud Mpu?”

Mpu Sabak berkata pelan:

“Sebagian datang membawa syukur.”

“Sebagian datang membawa luka.”

“Sebagian datang membawa kebingungan.”

“Sebagian datang karena kebiasaan.”

“Sebagian lagi datang karena sudah tidak tahu harus ke mana.”

Darma teringat wajah-wajah yang dilihatnya pagi tadi.

Mungkin benar.

Setiap orang membawa cerita yang tidak terlihat.

“Mpu, apakah Tuhan mendengar semua doa?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Ya.”

“Lalu mengapa tidak semua doa dikabulkan?”

Mpu Sabak memandang jendela yang gelap.

Lama sekali.

Kemudian berkata:

“Karena Tuhan mendengar doa kita sebagai Bapa.”

“Bukan sebagai pelayan.”

Darma terdiam.

Kalimat itu tidak mudah diterima.

Tetapi juga sulit dibantah.

Mpu Sabak melanjutkan:

“Ketika anak kecil meminta bermain hujan saat demam, ayah yang baik tidak selalu berkata ya.”

“Bukan karena tidak cinta.”

“Justru karena cinta.”

Darma menunduk.

Ia teringat banyak doa dalam hidupnya.

Ada yang dikabulkan.

Ada yang tidak.

Ada yang dijawab berbeda.

Dan ada yang sampai hari ini masih menjadi misteri.

Kali ini, buku catatan menerima kalimat yang lebih pelan:

“Iman bukan percaya bahwa Tuhan akan melakukan apa yang kuinginkan.”

“Iman adalah tetap percaya bahwa Tuhan adalah Bapa, bahkan ketika aku tidak mengerti apa yang sedang Ia lakukan.”

Ia menutup buku catatan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak membawa daftar permintaan dalam doanya.

Hanya satu kalimat sederhana:

“Terima kasih karena tetap menjadi Tuhan, bahkan ketika aku tidak memahami jalan-Mu.”

Di luar, malam bergerak perlahan.

Dan di dalam ruang kerja kecil itu, seorang lelaki berusia enam puluh empat tahun sedang belajar bahwa percaya tidak selalu berarti mengerti. Kadang percaya berarti tetap berjalan, meskipun lampu hanya menerangi beberapa langkah di depan.

BERSAMBUNG KE BAB III…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *