preloader

Pagi belum sepenuhnya lahir ketika saya mulai berjalan.

Jam masih menunjuk sekitar pukul 04.50. Jalanan masih menyimpan sisa malam. Lampu-lampu rumah belum semua menyala. Sebagian orang masih tidur, sebagian lain barangkali sedang bergulat dengan mimpi, kegelisahan, atau doa-doa yang belum selesai.

Udara pagi ini dingin. Bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin yang menyentuh perlahan, seperti tangan tua yang menepuk bahu dan berkata, “Pelan-pelan saja. Hari belum perlu dikejar.”

Angin berembus semilir. Ia lewat tanpa banyak suara, menyapa daun, menyisir wajah, lalu pergi begitu saja. Dalam hembusan kecil itu, saya merasa pagi sedang membuka pintunya dengan sangat sopan.

Lalu saya melihat Bulan.

Ia masih ada di langit. Bulan yang besar, terang, dan indah. Cahayanya tidak gaduh. Tidak memaksa siapa pun untuk menoleh. Tetapi justru karena diamnya itu, ia menjadi begitu kuat. Ia seperti orang bijak yang tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat kita ingin berhenti sejenak.

Mungkin itulah Strawberry Moon, purnama Juni yang namanya terdengar manis. Tetapi pagi ini, saya tidak sedang melihat stroberi. Saya sedang melihat kesetiaan.

Kesetiaan Bulan kepada malam. Kesetiaan cahaya kepada gelap. Kesetiaan alam kepada ritmenya sendiri.

Bulan itu seperti enggan pulang. Ia masih bertahan di langit, sementara fajar mulai bersiap mengambil alih. Tidak ada pertengkaran antara malam dan pagi. Tidak ada rebutan kuasa antara gelap dan terang. Yang ada hanya pergantian yang hening. Yang satu mundur perlahan, yang lain datang dengan santun.

Andai manusia belajar dari langit, mungkin banyak hal di bumi ini tidak perlu gaduh.

Kekuasaan tidak perlu dipertahankan dengan kasar. Jabatan tidak perlu ditinggalkan dengan dendam. Usia tidak perlu dilawan dengan panik. Perubahan tidak perlu disambut dengan ketakutan. Semua punya saatnya. Semua punya giliran. Semua punya cara untuk datang dan pergi dengan anggun.

Pagi ini Bulan mengajari saya bahwa keindahan tidak selalu berasal dari sesuatu yang baru muncul. Kadang keindahan justru datang dari sesuatu yang sebentar lagi akan pergi.

Begitulah hidup.

Ada orang-orang yang hadir sebentar, tetapi meninggalkan cahaya panjang. Ada peristiwa yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran dalam. Ada pagi yang dingin, angin yang semilir, dan Bulan yang masih menggantung di langit—lalu tiba-tiba kita merasa sedang diberi pesan.

Bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki.

Sebagian cukup disaksikan. Sebagian cukup disyukuri. Sebagian cukup dibiarkan lewat, sambil kita berkata dalam hati: terima kasih, sudah pernah begitu indah.

Saya terus berjalan.

Langkah saya pelan. Napas saya lebih teratur. Di atas sana, Bulan masih menemani. Di timur, fajar mulai menyiapkan warna. Dunia belum ramai, tetapi hati saya sudah penuh.

Mungkin beginilah cara Tuhan menyapa manusia yang mau bangun lebih pagi: bukan dengan suara besar, melainkan dengan dingin udara, semilir angin, dan Bulan yang belum selesai berpamitan kepada malam.

–DenEff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *