pagi belum benar-benar pagi
malam belum sepenuhnya pergi
di antara dingin udara
dan angin yang menyentuh wajah perlahan
aku berjalan
seperti orang yang sedang mencari dirinya
di sisa-sisa gelap yang baik hati
di langit
bulan masih tinggal
ia tidak tergesa turun
tidak pula ingin mengalahkan fajar
ia hanya diam
menyala secukupnya
seperti doa orang tua
yang tidak banyak kata
tetapi selalu sampai
orang-orang mungkin menyebutnya
strawberry moon
bulan purnama juni
nama yang manis
untuk cahaya yang sesungguhnya sunyi
tetapi bagiku
ia bukan stroberi
ia adalah pesan
bahwa yang indah
tidak selalu datang dengan sorak
kadang ia hadir
pada pukul empat lima puluh pagi
ketika jalan masih lengang
ketika hati belum memakai topeng
ketika dunia belum sibuk
menjual dirinya sendiri
bulan itu seperti berkata:
jangan takut menjadi lembut
di zaman yang keras
jangan malu menjadi terang
meski sebentar lagi
engkau harus pergi
sebab tidak semua cahaya
ditugaskan untuk tinggal lama
ada yang cukup hadir
agar seseorang ingat
bahwa hidup
masih layak disyukuri
aku terus berjalan
udara dingin menemaniku
angin semilir mengusap pipi
dan bulan
masih menggantung di sana
seperti sahabat lama
yang tahu
aku sedang butuh ditemani
lalu perlahan
fajar mulai membuka pintu
tidak ada pertengkaran
antara malam dan pagi
tidak ada rebutan kuasa
antara gelap dan terang
yang satu pamit
yang lain datang
dengan cara yang begitu santun
andai manusia belajar dari langit
mungkin perpisahan
tidak selalu menjadi luka
mungkin pergantian
tidak selalu menjadi dendam
mungkin pergi
bisa juga berarti
menyelesaikan tugas cahaya
pagi ini
aku tidak membawa pulang bulan
aku hanya membawa pulang rasa syukur
bahwa sebelum hari menjadi ramai
Tuhan sempat menaruh keindahan
di atas kepalaku
dan membiarkan aku melihatnya
sebentar saja
agar sepanjang hari
aku ingat
bahwa hidup
meski dingin
meski sunyi
meski kadang harus berjalan sendiri
tetap punya bulan
yang diam-diam
menunggu kita
di ambang fajar
–deneff, 30062026, 04:50