preloader
Screenshot

Pak Mardi selalu datang sebelum matahari benar-benar naik.

Pukul 05.45, ia sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Jalanan masih agak lengang. Udara pagi masih menyimpan dingin. Di ujung gang, beberapa penjual sarapan baru mulai membuka lapak. Burung-burung kecil bergerak di kabel listrik, sementara halaman sekolah masih sepi.

Pak Mardi mengeluarkan kunci dari saku bajunya.

Kunci itu tidak besar. Hanya seikat kunci biasa, dengan gantungan plastik yang warnanya sudah pudar. Tetapi bagi sekolah kecil itu, kunci tersebut seperti tanda dimulainya hari.

Ia membuka gembok gerbang pelan-pelan.

Krek.

Gerbang besi itu bergeser, mengeluarkan suara yang sudah sangat dikenalnya.

Setelah gerbang terbuka, Pak Mardi tidak langsung duduk di pos. Ia mengambil sapu lidi, lalu mulai menyapu daun-daun yang jatuh di dekat pintu masuk. Semalam angin cukup kencang. Beberapa daun mangga berserakan di halaman depan. Ada juga ranting kecil yang patah dan jatuh di dekat jalur anak-anak masuk.

Ia menyapu dengan gerakan tenang.

Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang memberi aba-aba.
Tidak ada yang memuji.

Tetapi ia tetap menyapu.

Baginya, halaman yang bersih bukan sekadar soal rapi. Halaman yang bersih membuat anak-anak aman berjalan. Orang tua yang mengantar merasa tenang. Guru yang datang tidak langsung melihat kekacauan.

Setelah halaman depan bersih, Pak Mardi memeriksa pot bunga di sepanjang koridor. Ada satu pot yang miring. Ia membetulkannya. Ada tanah yang tumpah sedikit. Ia mengambil sekop kecil dan merapikannya. Di dekat kelas satu, ia melihat batu kecil di jalur masuk. Ia mengambilnya dan membuang ke pinggir taman.

Pekerjaan kecil.

Sangat kecil.

Tetapi ia tahu, anak-anak kelas satu sering berlari tanpa melihat ke bawah.

Sekitar pukul 06.15, Bu Ratna, guru kelas dua, datang membawa tas besar dan map berisi lembar kerja.

“Pagi, Pak Mardi.”

“Pagi, Bu.”

“Sudah bersih saja halamannya.”

Pak Mardi tersenyum.

“Semalam banyak daun jatuh, Bu. Takut anak-anak terpeleset.”

Bu Ratna berhenti sebentar, lalu memandang halaman yang sudah rapi.

“Kadang kami guru-guru lupa bahwa kelas yang siap dimulai dari gerbang yang dibuka dengan baik.”

Pak Mardi tertawa kecil.

“Ah, saya cuma buka gerbang, Bu.”

“Justru itu. Kalau gerbang belum dibuka, kami semua belum bisa mulai.”

Bu Ratna masuk ke ruang guru.

Pak Mardi melanjutkan pekerjaannya.

Pukul 06.30, anak-anak mulai datang. Ada yang turun dari motor sambil masih mengantuk. Ada yang berlari membawa botol minum. Ada yang menggandeng tangan ibunya. Ada yang menangis kecil karena belum ingin berpisah.

Pak Mardi berdiri di dekat gerbang.

“Pagi, Dito.”

“Pagi, Pak.”

“Pelan-pelan jalannya, Naya. Jangan lari.”

“Iya, Pak Mardi.”

“Topinya jangan lupa dipakai, Raka.”

Anak-anak mengenalnya. Bagi mereka, Pak Mardi adalah bagian dari sekolah, sama seperti bel, papan tulis, lapangan kecil, dan pohon mangga di halaman.

Suatu hari, beberapa bulan sebelumnya, Pak Mardi pernah datang terlambat.

Hujan turun deras sejak subuh. Jalan depan rumahnya tergenang. Motornya sulit dinyalakan. Ia tiba di sekolah hampir pukul 06.20. Gerbang memang akhirnya terbuka, tetapi halaman depan masih licin oleh daun basah.

Pagi itu, seorang anak kelas satu terpeleset.

Tidak parah. Hanya lututnya kotor dan sedikit lecet. Tetapi tangisnya membuat Pak Mardi tidak enak hati sepanjang hari.

Kepala sekolah tidak memarahinya keras. Hanya berkata pelan:

“Pak Mardi, pekerjaan Bapak kelihatannya sederhana. Tapi anak-anak masuk sekolah lewat pekerjaan Bapak.”

Kalimat itu menempel di hatinya.

Sejak hari itu, Pak Mardi semakin memahami bahwa membuka gerbang bukan hanya membuka besi yang terkunci. Ia sedang membuka hari bagi banyak orang.

Ia membuka hari bagi guru yang akan mengajar.
Ia membuka hari bagi anak-anak yang akan belajar.
Ia membuka hari bagi orang tua yang menitipkan kepercayaan.
Ia membuka hari bagi sekolah yang ingin berjalan tertib.

Pagi ini, ketika Dito, anak kelas satu yang dulu pernah terpeleset, melewati gerbang, ia berhenti sebentar.

“Pak, hari ini tidak licin ya?”

Pak Mardi tersenyum.

“Tidak, Nak. Sudah Pak Mardi bersihkan.”

Dito mengangguk, lalu berlari kecil ke kelas.

Pak Mardi memperhatikan anak itu sampai masuk koridor.

Di matanya, pekerjaan pagi itu menjadi lebih terang.

Tidak semua kesempatan kerja datang dalam bentuk jabatan besar. Tidak semua kesempatan datang sebagai panggung, rapat penting, atau keputusan yang dilihat banyak orang. Kadang kesempatan datang sebagai gerbang yang harus dibuka sebelum orang lain tiba.

Kadang kesempatan datang sebagai daun basah yang harus disapu.
Sebagai batu kecil yang harus disingkirkan.
Sebagai pot bunga yang harus ditegakkan.
Sebagai sapaan pagi yang membuat anak merasa aman.

Pukul 07.00, bel sekolah berbunyi.

Anak-anak masuk kelas. Guru-guru berdiri di depan ruangan masing-masing. Halaman kembali sepi. Pak Mardi duduk sebentar di pos kecilnya.

Tangannya masih memegang sapu.

Ia melihat gerbang yang sudah terbuka lebar.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya gerbang sekolah.

Bagi Pak Mardi, itu adalah tanda bahwa pekerjaannya hari ini sudah ikut membuka jalan bagi banyak orang.

Ia tidak berdiri di depan kelas.
Ia tidak menulis di papan tulis.
Ia tidak memberi nilai.
Ia tidak memimpin rapat.

Tetapi sebelum semua itu terjadi, ia sudah lebih dulu hadir.

Dan dari kehadiran kecil yang setia itu, sekolah memulai harinya dengan lebih siap.

RENUNGAN

Kerja adalah kesempatan.

Tetapi kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Ia sering datang dalam tugas-tugas kecil yang diulang setiap hari.

Membuka gerbang.
Menyapu halaman.
Merapikan ruang.
Menyiapkan alat.
Memastikan jalan aman.
Menyapa orang pertama yang datang.

Tugas-tugas seperti itu mudah dianggap biasa. Namun justru dari hal-hal biasa itulah budaya kerja dibangun.

Orang yang melihat pekerjaan sebagai kesempatan tidak menunggu tugasnya terlihat penting. Ia membuat tugasnya menjadi bermakna melalui cara ia mengerjakannya.

Kesempatan yang dihormati akan melahirkan kesiapan.
Kesiapan yang diulang akan melahirkan kebiasaan.
Kebiasaan yang dijaga akan melahirkan budaya.

Dan budaya kerja yang baik sering dimulai dari orang-orang yang hadir lebih dulu, bekerja diam-diam, dan memastikan orang lain dapat memulai hari dengan lebih baik.

—www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *