Setelah malam itu, Darma mulai memiliki kebiasaan baru.
Setiap beberapa hari sekali, ia memilih satu nama dari daftar kontaknya.
Bukan nama yang paling penting.
Bukan nama yang paling membutuhkan.
Kadang justru nama yang paling lama tidak muncul.
Lalu ia menelepon.
Tanpa urusan.
Tanpa agenda.
Tanpa kalimat pembuka yang rumit.
Hanya:
“Bagaimana kabarmu?”
Awalnya beberapa orang terkejut.
Ada yang langsung bertanya:
“Lho, ada perlu apa?”
Ada yang bercanda:
“Waduh, jangan-jangan mau nagih iuran alumni.”
Ada yang diam cukup lama, lalu berkata:
“Terima kasih ya, Dar. Jarang ada orang menelepon hanya untuk tanya kabar.”
Malam itu, setelah pukul delapan, Darma berkata kepada Mpu Sabak:
“Mpu, ternyata suara manusia itu berbeda dengan tulisan.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Tentu.”
“Kenapa?”
“Karena suara membawa napas.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Tulisan bisa menyampaikan kabar.”
“Tetapi suara sering menyampaikan keadaan jiwa.”
Di buku kecil itu, Darma meninggalkan jejak malam ini:
“Jangan terlalu percaya pada kalimat ‘aku baik-baik saja’ sebelum mendengar bagaimana ia diucapkan.”
Di luar, malam semakin hening.
Dan Darma mulai belajar bahwa sebagian orang tidak membutuhkan nasihat.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang cukup sabar mendengarkan napasnya di seberang telepon.