preloader

Sore itu Darma duduk di beranda lebih lama dari biasanya.

Istrinya sempat keluar dan bertanya,

“Kamu sedang menunggu siapa?”

Darma tersenyum.

“Tidak menunggu siapa-siapa.”

“Lalu?”

“Sedang belajar melihat orang lewat.”

Istrinya menggeleng sambil tersenyum.

“Semakin tua semakin aneh.”

“Semakin tua semakin murah hiburannya.”

Mereka tertawa.

Setelah istrinya masuk, Darma kembali memandang jalan.

Seorang penjual bakso mendorong gerobaknya perlahan.

Darma memanggilnya.

“Mas, mampir.”

Penjual itu berhenti.

Darma tidak terlalu lapar.

Tetapi ia membeli semangkuk.

Bukan karena baksonya.

Melainkan karena tiba-tiba ia ingin menghargai seseorang yang lewat membawa hidupnya di atas roda kecil.

Malamnya, Mpu Sabak datang.

“Enak baksonya?” tanya Mpu.

Darma terkejut.

“Mpu tahu?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Orang yang mulai melihat hidup, biasanya mulai mudah lapar.”

Darma tertawa.

Mpu Sabak melanjutkan:

“Darma, jangan meremehkan orang-orang yang lewat.”

“Kadang Tuhan menitipkan pelajaran kepada mereka yang tidak pernah naik mimbar.”

Darma menunduk.

Darma menutup malam dengan satu baris:

“Tidak semua guru datang membawa buku.

Ada yang datang membawa gerobak bakso, sapu lidi, tiket kereta, atau secangkir teh hangat.”

Di luar, suara gerobak bakso menjauh.

Tinggal bunyi sendok beradu mangkuk dari kejauhan.

Sederhana.

Tetapi malam itu Darma merasa, hidup sedang berbicara dengan bahasa yang pelan.

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *