preloader

Di sudut ruang

Aku mendengarkan perjalanan ziarahMu dibumiku

Aku terpekur dalam hiruk pikuk sidangMU

setiap jawabMu menyayat hati siapa yang mendengarnya;

lemah, namun menusuk hingga ke ulu hati.


Di puncak jalan sengsaraMu;

ketika tanganMu sudah terentang diantara langit dan bumi

rasa haus meradang dibibirMu

tapi, hanya cuka yang bisa Kau kecup,

sesaat kemudian terdengar suaraMu, “ … selesailah sudah …”

baris terakhir lagu sunyiMu menutup nyanyian!


Ijinkan aku mengecup kakiMu

sebagai penghormatan dan pertobatanku!


(jumat agung, 21032008)

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *