BAB 13 – Jangan Menunggu Kematian
Darma menatap nama Bambang di buku catatannya.
“Dulu kami dekat sekali, Mpu.”
“Lalu?”
“Lalu lulus. Kuliah beda kota. Kerja. Menikah. Punya urusan masing-masing.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Persahabatan sering tidak putus. Ia hanya tertimbun jadwal.”
Darma menarik napas panjang.
“Seharusnya aku lebih sering menghubungi dia.”
“Seharusnya adalah kata yang paling rajin datang setelah seseorang pergi.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak melanjutkan pelan:
“Karena itu, jangan menunggu kematian mengajari cara menyapa.”
Malam itu Darma membuka daftar kontaknya.
Ada banyak nama lama.
Beberapa masih aktif.
Beberapa hanya menyisakan foto profil.
Beberapa tidak pernah lagi mengirim kabar.
Darma memilih satu nama.
Teman SD.
Ia mengetik singkat:
Halo, Kang. Tiba-tiba ingat masa kecil. Semoga sehat ya.
Ia ragu sebentar.
Lalu mengirimnya.
Beberapa menit kemudian, pesan itu dibalas.
Wah, Pak Ketua kangen aku tah? Sehat, Dar. Kamu juga sehat ya. Kapan ngopi?
Darma tersenyum.
Matanya sedikit basah.
Mpu Sabak ikut tersenyum.
“Lihat,” katanya.
“Apa?”
“Kadang pintu masa lalu tidak terkunci. Kita saja yang terlalu lama tidak mengetuk.”