Darma menatap balasan itu cukup lama.
Kapan ngopi?
Dua kata sederhana.
Tetapi malam itu, dua kata itu terasa seperti undangan untuk kembali menjadi manusia biasa.
Bukan ketua.
Bukan pengurus.
Bukan orang yang harus memberi sambutan.
Hanya teman lama yang duduk berhadapan dengan teman lama.
“Besok aku ajak dia ngopi,” kata Darma.
Mpu Sabak mengangguk.
“Bagus.”
“Cuma ngopi.”
“Tidak ada yang cuma-cuma, Darma. Banyak persahabatan selamat karena secangkir kopi.”
Darma tertawa kecil.
“Mpu ini suka membesar-besarkan kopi.”
“Tidak. Manusialah yang sering mengecilkan pertemuan.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak berdiri perlahan.
Sebelum pergi, ia berkata:
“Kematian mengingatkan bahwa hidup terlalu singkat untuk hanya mengurus agenda.”
Darma menyimpan kalimat itu di buku catatannya:
“Hubungan yang tidak dirawat tidak selalu mati. Kadang ia hanya menunggu seseorang cukup rendah hati untuk menyapa lebih dulu.”
Di luar, malam berjalan pelan.
Dan untuk pertama kalinya, Darma merasa bahwa mungkin sebagian warisan hidup bukanlah sesuatu yang besar. Kadang hanya pesan pendek yang dikirim sebelum terlambat.