preloader

Darma menatap balasan itu cukup lama.

Kapan ngopi?

Dua kata sederhana.

Tetapi malam itu, dua kata itu terasa seperti undangan untuk kembali menjadi manusia biasa.

Bukan ketua.

Bukan pengurus.

Bukan orang yang harus memberi sambutan.

Hanya teman lama yang duduk berhadapan dengan teman lama.

“Besok aku ajak dia ngopi,” kata Darma.

Mpu Sabak mengangguk.

“Bagus.”

“Cuma ngopi.”

“Tidak ada yang cuma-cuma, Darma. Banyak persahabatan selamat karena secangkir kopi.”

Darma tertawa kecil.

“Mpu ini suka membesar-besarkan kopi.”

“Tidak. Manusialah yang sering mengecilkan pertemuan.”

Darma terdiam.

Mpu Sabak berdiri perlahan.

Sebelum pergi, ia berkata:

“Kematian mengingatkan bahwa hidup terlalu singkat untuk hanya mengurus agenda.”

Darma menyimpan kalimat itu di buku catatannya:

“Hubungan yang tidak dirawat tidak selalu mati. Kadang ia hanya menunggu seseorang cukup rendah hati untuk menyapa lebih dulu.”

Di luar, malam berjalan pelan.

Dan untuk pertama kalinya, Darma merasa bahwa mungkin sebagian warisan hidup bukanlah sesuatu yang besar. Kadang hanya pesan pendek yang dikirim sebelum terlambat.

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *