preloader

Kabar Duka

Keesokan paginya, Darma bangun lebih lambat dari biasanya.

Istrinya sudah menyiapkan teh di meja makan.

“Semalam anakmu pulang jam berapa?” tanya istrinya.

“Setengah sebelas.”

“Tidak kamu telepon?”

Darma tersenyum.

“Tidak.”

Istrinya menatapnya sebentar.

“Tumben.”

Darma tertawa kecil.

“Sedang belajar.”

“Belajar apa?”

Darma mengangkat cangkir tehnya.

“Belajar menjadi ayah yang tidak terlalu berisik.”

Istrinya tertawa.

“Wah, itu pelajaran tingkat tinggi.”

Mereka tertawa bersama.

Pagi itu terasa ringan.

Tidak ada khotbah.

Tidak ada nasihat panjang.

Hanya teh hangat, roti panggang, dan dua orang tua yang mulai mengerti bahwa anak-anak memang tidak dilahirkan untuk tinggal selamanya di bawah atap yang sama.

Siang harinya, Darma menerima kabar dari grup alumni SMP.

Seorang teman lama meninggal dunia.

Namanya Bambang Suryono.

Dulu mereka duduk sebangku.

Dulu mereka pernah dihukum bersama karena terlambat masuk kelas.

Dulu mereka pernah tertawa sampai perut sakit karena guru matematika salah menulis angka di papan tulis.

Kini namanya muncul dalam pesan singkat:

Innalillahi, telah berpulang sahabat kita Bambang Suryono.

Darma menatap layar cukup lama.

Ada nama-nama yang ketika disebut membuat masa lalu tiba-tiba membuka pintu.

Ia mengetik ucapan duka.

Lalu berhenti.

Ucapan duka sering terasa terlalu rapi untuk kehilangan yang berantakan.

Akhirnya ia menulis:

Selamat jalan, Bang. Terima kasih pernah menjadi bagian dari masa kecil kami.

Setelah itu, ia menutup telepon genggam.

Beberapa menit kemudian, Darma berdiri di depan jendela.

Orang meninggal pada usia muda disebut terlalu cepat.

Orang meninggal pada usia tua disebut sudah waktunya.

Tetapi bagi orang yang ditinggalkan, waktu selalu terasa kurang tepat.

Malamnya, setelah pukul delapan, Darma duduk lagi di ruang kerja.

Istrinya sudah tidur.

Rumah menjadi sunyi.

Di atas meja, buku catatan terbuka.

Darma menulis nama Bambang.

Lalu menulis satu kalimat di bawahnya:

Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan percakapan terakhir sedang terjadi.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara itu datang lebih pelan dari biasanya.

Mpu Sabak muncul, lalu duduk tanpa berkata apa-apa.

Untuk pertama kalinya, Darma tidak bertanya.

Mpu Sabak pun tidak membuka percakapan.

Mereka hanya duduk.

Karena ada jenis kesedihan yang tidak membutuhkan nasihat.

Cukup ditemani.

Setelah beberapa lama, Darma berkata:

“Mpu, tadi teman saya meninggal.”

Mpu Sabak mengangguk.

“Namanya?”

“Bambang.”

“Teman dekat?”

“Dulu dekat. Lalu hidup membuat kami berjauhan.”

“Begitulah hidup,” kata Mpu Sabak. “Ia tidak selalu memutus hubungan dengan pertengkaran. Kadang cukup dengan kesibukan.”

Darma menunduk. Kalimat itu terasa lebih sedih daripada kabar duka itu sendiri.

BERSAMBUNG…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *