Beberapa hari kemudian, Darma benar-benar bertemu sahabat lamanya itu.
Mereka memilih warung kopi sederhana.
Bukan kafe modern.
Bukan tempat yang sedang ramai di media sosial.
Hanya warung lama dengan kursi plastik, meja kayu, dan aroma kopi yang lebih tua daripada sebagian pelanggan yang datang.
Sahabatnya datang lebih dulu.
Rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya.
Perutnya sedikit lebih besar daripada waktu SMA.
Tetapi ketika tertawa, wajahnya masih sama seperti puluhan tahun lalu.
“Dar!” katanya sambil berdiri.
“Kang!”
Mereka berjabat tangan.
Lalu saling menepuk pundak.
Dan tiba-tiba saja, empat puluh tahun menghilang.
Mereka berbicara tentang banyak hal.
Tentang guru-guru yang dulu ditakuti.
Tentang teman-teman yang sekarang tinggal di berbagai kota.
Tentang kenakalan masa sekolah yang dulu terasa heroik, tetapi kini terdengar lucu.
Mereka tertawa.
Sering sekali tertawa.
Sampai suatu titik, percakapan melambat.
Seperti sungai yang memasuki bagian yang lebih dalam.
“Dar,” kata sahabatnya.
“Hm?”
“Kamu pernah merasa tua?”
Darma tertawa.
“Setiap pagi kalau bangun tidur.”
“Bukan itu.”
“Lalu?”
Sahabatnya mengaduk kopi.
Kemudian berkata pelan:
“Aku mulai sadar bahwa jumlah teman yang akan kutemui lagi lebih sedikit daripada jumlah teman yang tidak akan kutemui lagi.”
Darma terdiam.
Warung yang tadi penuh tawa mendadak terasa sunyi.
Malamnya, setelah pukul delapan.
Darma kembali ke ruang kerjanya.
Ia tidak menunggu Mpu Sabak.
Ia hanya duduk.
Merenungkan kalimat sahabatnya.
Jumlah teman yang akan kutemui lagi lebih sedikit daripada jumlah teman yang tidak akan kutemui lagi.
Kalimat itu seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam sumur.
Suaranya tidak keras.
Tetapi gaungnya panjang.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Kali ini membawa sesuatu.
Sebuah kotak kayu kecil.
“Ini apa?” tanya Darma.
“Kenangan.”
“Kenangan kok dimasukkan kotak?”
“Buka saja.”
Darma membuka tutupnya.
Kosong.
Ia tertawa.
“Tidak ada apa-apa.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Benar.”
“Lalu?”
“Begitulah kenangan.”
Darma mengernyit.
“Tidak mengerti.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Kenangan tidak pernah tinggal di dalam benda. Ia tinggal di dalam orang yang mengingatnya.”
Darma memandang kotak kosong itu.
Tiba-tiba ia teringat ayahnya.
Ibunya.
Guru SD.
Teman-teman yang telah meninggal.
Rumah lama yang sudah berubah bentuk.
Sepeda pertama.
Surat-surat yang pernah ia simpan.
Semuanya tidak ada di kotak itu.
Tetapi semuanya hadir di kepalanya.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Manusia sering menyimpan barang karena takut kehilangan kenangan.”
“Padahal yang membuat kenangan hidup bukan barangnya.”
“Melainkan rasa syukur bahwa kita pernah mengalaminya.”
Darma menutup kotak itu perlahan.
Lalu bertanya:
“Mpu, mengapa semakin tua orang semakin suka mengenang?”
Mpu Sabak memandang keluar jendela.
Ke arah malam yang tenang.
Kemudian menjawab:
“Karena masa depan semakin pendek, sementara gudang kenangan semakin penuh.”
Darma tersenyum.
“Jawaban Mpu selalu aneh.”
“Syukurlah.”
“Kenapa syukur lagi?”
“Karena kalau jawabanku biasa, kau tidak akan mengingatnya besok pagi.”
Mereka tertawa bersama.
Dan malam itu, Darma mulai memahami sesuatu:
Masa lalu bukan tempat untuk tinggal.
Tetapi juga bukan tempat yang harus dilupakan.
Ia adalah ruang yang sesekali perlu dikunjungi.
Bukan untuk menetap.
Melainkan untuk mengucapkan terima kasih.