Darma meletakkan kotak kayu kosong itu di samping buku catatannya.
“Mpu, apakah semua kenangan baik untuk disimpan?”
Mpu Sabak menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Ada kenangan yang menjadi lampu. Ada kenangan yang menjadi rantai.”
Darma menatapnya.
“Bagaimana membedakannya?”
Mpu Sabak tersenyum tipis.
“Kalau setelah mengingatnya kau menjadi lebih manusiawi, itu lampu.”
“Kalau setelah mengingatnya kau menjadi pahit, itu rantai.”
Darma terdiam.
Ia tahu, di dalam dirinya masih ada beberapa rantai.
Nama orang yang belum ia maafkan.
Kalimat yang masih menyakitkan.
Keputusan masa lalu yang kadang datang kembali seperti tamu yang tidak tahu diri.
Mpu Sabak berdiri perlahan.
“Malam ini jangan menulis terlalu banyak.”
“Kenapa?”
“Kadang jiwa tidak butuh kalimat. Ia hanya butuh ruang.”
Darma mengangguk.
Setelah Mpu Sabak pergi, ia membuka buku catatannya.
Ia hanya menulis satu baris:
“Tidak semua masa lalu harus kubawa sampai akhir perjalanan.”
Lalu Darma menutup buku itu.
Malam semakin hening.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mengingat tidak selalu berarti menggenggam. Kadang mengingat adalah cara paling lembut untuk mulai melepaskan