Pagi berikutnya, Darma membuka lemari tua di ruang kerjanya.
Di sana tersimpan banyak benda yang dulu terasa penting.
Map acara alumni.
Piagam penghargaan.
Foto kepanitiaan.
Surat undangan.
Tanda panitia.
Buku agenda lama.
Semua tersusun rapi, tetapi diam-diam berdebu.
Darma mengambil satu map.
Di dalamnya ada foto dirinya sedang berdiri di podium.
Tersenyum.
Memegang mikrofon.
Di belakangnya tertulis:
Ketua Panitia.
Ia menatap foto itu cukup lama.
Dulu foto itu membuatnya bangga.
Hari itu, foto yang sama membuatnya bertanya:
“Berapa banyak hidupku habis di depan mikrofon?”
Ia tidak menyesal.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menambah terlalu banyak foto serupa.
Malamnya, setelah pukul delapan, Darma berkata kepada Mpu Sabak:
“Sepertinya aku mulai ingin merapikan hidup.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Bagus.”
“Mulai dari mana?”
Mpu Sabak menunjuk dada Darma.
“Dari laci yang paling jarang kaubuka.”
“Laci apa?”
“Hatimu.”
Darma diam.
Mpu Sabak melanjutkan pelan:
“Rumah yang rapi tidak selalu menandakan hidup yang rapi.”
“Kadang hanya berarti debunya dipindahkan ke tempat yang tidak terlihat.”
Darma menunduk.
Malam itu ia tahu, yang harus dirapikan bukan hanya lemari.
Tetapi juga nama-nama yang masih mengganjal.
Kenangan yang masih menjadi rantai.
Dan dirinya sendiri yang terlalu lama menjadi gudang bagi hal-hal yang belum selesai.
BERSAMBUNG…