Keesokan harinya, Darma membuat daftar.
Bukan daftar pekerjaan.
Bukan daftar rapat.
Bukan daftar iuran alumni.
Ia menulis judul kecil di bagian atas halaman:
Yang Belum Selesai di Dalam Diriku
Lama sekali ia hanya menatap halaman itu.
Lalu pelan-pelan ia menulis beberapa nama.
Ada nama seorang sahabat lama.
Ada nama rekan kerja.
Ada nama saudara.
Ada juga satu nama yang paling sulit ia tulis.
Namanya sendiri.
Darma memandangi tulisan itu.
Lalu berbisik:
“Rupanya orang yang paling sulit kumaafkan adalah diriku sendiri.”
Malamnya, Mpu Sabak datang seperti biasa.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia duduk tanpa bertanya.
Darma menyodorkan buku catatannya.
Mpu Sabak membaca sebentar, lalu tersenyum.
“Bagus.”
“Bagus bagaimana? Isinya berat semua.”
“Justru karena itu bagus.”
“Mengapa?”
“Karena banyak orang ingin mati dengan rumah rapi, tetapi lupa membersihkan hatinya.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak menunjuk daftar itu.
“Jangan selesaikan semuanya sekaligus.”
“Kenapa?”
“Nanti kau mengira hidup ini proyek.”
“Lalu?”
“Mulailah dari satu nama yang paling sering muncul dalam doamu.”
Darma menunduk.
Ia tahu nama itu.
Nama yang selama ini tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Tetapi selalu hadir ketika malam terlalu sunyi.
BERSAMBUNG…