Keesokan harinya, Darma membawa kalimat itu ke rapat alumni.
Bukan di kertas.
Di dalam dadanya.
Sudah waktunya menjadi tali yang mengikat.
Rapat berjalan seperti biasa.
Ada yang bicara terlalu panjang.
Ada yang datang terlambat.
Ada yang sibuk mengusulkan, tetapi diam ketika diminta mengerjakan.
Darma tersenyum dalam hati.
Dulu hal-hal seperti itu membuatnya cepat mengambil alih.
Hari itu, ia menahan diri.
“Baik,” katanya pelan, “siapa yang bersedia memimpin bagian acara?”
Ruangan hening.
Darma tidak segera menyelamatkan keadaan.
Padahal lidahnya sudah hampir bergerak. Kalimat lama itu hampir keluar: *Ya sudah, saya saja.*
Ia menelan kalimat itu pelan-pelan. Untuk beberapa detik, ia tidak tampak seperti orang bijaksana, melainkan seperti orang yang sedang bergulat dengan kebiasaannya sendiri.
Ia membiarkan hening bekerja.
Akhirnya seorang alumni yang lebih muda mengangkat tangan.
“Saya coba, Pak. Tapi mohon dibimbing.”
Darma tersenyum.
“Itu kalimat yang cukup untuk memulai.”
Malamnya, Darma menceritakan itu kepada Mpu Sabak.
Mpu Sabak tertawa kecil.
“Nah, kau mulai mengikat lidi.”
“Rasanya lambat, Mpu.”
“Memang.”
“Kalau kukerjakan sendiri, lebih cepat.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Benar. Tapi yang cepat belum tentu melahirkan orang.”
“Kadang pemimpin harus rela pekerjaan berjalan lebih lambat agar manusia di dalamnya bertumbuh lebih cepat.”
Darma menulis malam itu:
“Aku tidak boleh mencuri kesempatan orang lain untuk belajar hanya karena aku ingin semuanya cepat selesai.”
Mpu Sabak berdiri.
Sebelum pergi, ia berkata:
“Tali tidak terlihat sehebat lidi.”
“Tetapi tanpa tali, sapu hanya kumpulan batang yang mudah tercerai.”
Malam itu Darma tidur dengan perasaan aneh.
Ia tidak menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Tetapi mungkin, untuk pertama kalinya, ia mulai menyelesaikan cara lamanya memimpin.