Mpu Sabak – BAB 38 Telepon Tanpa Urusan
Malam itu Darma mengambil telepon genggamnya. Bukan untuk membaca berita. Bukan untuk membuka grup alumni.…
Baca Lebih Lanjut
Malam itu Darma mengambil telepon genggamnya. Bukan untuk membaca berita. Bukan untuk membuka grup alumni.…
Baca Lebih LanjutMalam itu, setelah menulis kalimat tentang terima kasih, Darma tidak langsung menutup buku catatannya. Ia…
Baca Lebih LanjutPagi berikutnya, Darma melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia menunggu istrinya duduk di meja…
Baca Lebih LanjutKeesokan paginya, Darma bangun dan menemukan secangkir teh hangat di meja makan. Seperti biasa. Namun…
Baca Lebih LanjutMalam itu Darma memandangi pintu kamar. Istrinya sudah tidur. Seperti biasa. Pukul delapan. Seperti biasa.…
Baca Lebih LanjutKeesokan sorenya, Darma sengaja pulang lewat stasiun. Bukan karena harus naik kereta. Hanya ingin melihat.…
Baca Lebih LanjutBeberapa hari kemudian, Darma menemukan tiket kereta lama di sela buku. Tiket itu sudah menguning.…
Baca Lebih LanjutKeesokan paginya, Darma menemukan sehelai rambut putih jatuh di wastafel. Ia memungutnya. Pendek. Ringan. Nyaris…
Baca Lebih Lanjut“Kesibukan sering kali membuat seorang pemimpin terlihat produktif. Padahal, belum tentu ia sedang menjalankan fungsi…
Baca Lebih LanjutPak Mardi selalu datang sebelum matahari benar-benar naik. Pukul 05.45, ia sudah berdiri di depan…
Baca Lebih Lanjut